Saturday, January 12, 2013

Bidadari Tuhan


Kemarau panjang tampak tenang berada di waktunya
Tawa renyah bocah-bocah kecil yang gembira tak menghiraukan sengatan matahari
Dengan alasan apa lagi kita tertawa, jika bukan karena terinspirasi wajah-wajah lugu tersebut?
Wajah-wajah ceria ...

Tak tampak guratan khawatir di wajah mereka tatkala air di sumur belakang rumahnya kering,
Kering menjadi uap akibat terpaan sinar matahari tiada henti

Wajah itu, tawa itu, langkah-langkah kecil itu kerap kali menggambarkan kebahagiaan
Bukan wajah ricuh, lelah dan penuh gurat khawatir memikirkan dunia yang tetap berputar tanpa memikirkan mereka
Alangkah bahagia hati ini saat gelak tawa itu terdengar

Mereka tak peduli dengan kulit mereka yang menghitam
Tak peduli dengan kaki-kaki mereka yang kotor,
Tubuh mereka yang bau keringat
Mereka hanya bergembira, hanya tau bergembira
Keriangan mereka layaknya suara lonceng kebahagiaan dari surga ...

Bocah-bocah kecil ini layaknya perhiasan mentah, yang entah akan menjadi apa mereka nantinya
Mereka adalah bidadari dan bidadara yang tak pernah lepas dari pelukan Tuhan.

No comments:

Post a Comment