Akhir-akhir ini aku sering berfikir, sebenarnya apa yang sebenar-benarnya aku inginkan? Aku seperti terjebak dalam keinginan ku sendiri, mmm tepatnya keinginan kedua orang tuaku.
Kalian tau mimpi? Ya, aku ingin membicarakan hal itu dengan kalian. Berdasarkan salah satu website pintar selain Google, ya kita bisa sebut dia dengan nama Wikiupedia, mengatakan "Mimpi adalah pengalaman bawah sadar yang melibatkan penglihatan, pendengaran, pikiran, perasaan, atau indra lainnya dalam tidur, terutama saat tidur yang disertai gerakan mata yang cepat (rapid eye movement/REM sleep). Kejadian dalam mimpi biasanya mustahil terjadi dalam dunia nyata, dan
di luar kuasa pemimpi. Pengecualiannya adalah dalam mimpi yang disebut lucid dreaming.
Dalam mimpi demikian, pemimpi menyadari bahwa dia sedang bermimpi saat
mimpi tersebut masih berlangsung, dan kadang-kadang mampu mengubah
lingkungan dalam mimpinya serta mengendalikan beberapa aspek dalam mimpi
tersebut. Pemimpi juga dapat merasakan emosi ketika bermimpi, misalnya emosi takut dalam mimpi buruk. Ilmu yang mempelajari mimpi disebut oneirologi" Ya, begitualh kira-kira yang di katakan Wiki.
Mama pernah berkata padaku, kalau dia ingin sekali bisa pergi haji bersama bapak. Dimana selama satu bulan aku dan kakak akan menunggu dengan perasaan cemas bercampur bahagia. Kemudian saat pulang tiba, kami semua menjemput mereka dengan kendaraan pribadi dan pulang kerumah besar yang asri. Oh iya, dia juga ingin agar aku menjadi guru, agama islam khususnya hihi.
Begitulah, hidup tak serta merta mudah seperti membalik telapak tangan. Ketika yang terjadi justru sebaliknya, mama gak pernah merubah garis wajahnya. Ia tetap tersenyum bagaimanapun itu. Aku sampai lupa kapan mamaku sedang banyak uang atau tidak. Karena bagaimanapun, ia tetap melengkungkan senyum, berbagi dan bergembira.
Sedangkan bapak yang hobi sekali menonton berita baik politik atau apapun itu yang disiarkan, mengatakan bahwa dia ingin sekali agar aku bisa menjadi seorang pengacara. Dia melihat diriku yang keras kepala ini tak pernah mau kalah berdebat jika aku yakin benar. Memang begitu, dia ingin sekali agar aku mengikuti inginnya.
Tapi begitulah, sekali hidup tak serta merta mudah seperti membalik telapak tangan. Ketika yang terjadi justru sebaliknya ia hanya bisa sabar dan menyerahkan semuanya kepadaku untuk menjadi apa yang aku mau. Hanya mendukung dan mengingatkan agar aku tak lepas asa.
Bagi yang tak tau mungkin kalian mengira kedua orang tuaku adalah orang menyebalkan. Banyak impian, terlalu muluk atau lebih parah lagi, sedikit gila? Hmmm, kalian hanya belum mengenal. Banyak masa sulit yang mereka lewati. Untuk bisa survive sejauh ini ada banyak rasa sakit, pengorbanan, kecewa dan kesedihan yang telah mereka jalani. Ya, sekali laagi ya hidup memang tak mudah, tak seperti membalikkan telapak tangan. Bermimpi merupakan salah satu cara agar perjuangan terus berlanjut.
Aku sendiri, bagaimana?
Aku sewaktu kecil ingin sekali menjadi dokter (cita-cita standar semua anak di dunia) yang bekerja di rumah sakit mewah menggunakan seragam putih dan di hormati banyak orang. Aku menggantungkan mimpi itu dengan seutas tali pengingat agar aku bisa meraihnya. Aku belajar bagaimana cara bisa menjadi dokter, tapi keinginan anak-anak memang tidak bisa di tebak. Hingga suatu hari seperti ada yang mencuat ingin di perhatikan dari dalam diriku, kesukaan terhadap tulisan.
Aku gila sekali di awal-awal hobi ini. Tak mengindahkan ucapan mama untuk belajar kala UN SMP menanti. Bahkan novel pertama yang serba banyak kurangnya itu aku selesaikan selama satu bulan, tepat seminggu sebelum UN berlangsung. Bapak adalah pembaca pertamaku. Dengan tidak memiliki sense of literary ia mengatakan aku berbakat menulis. Kini aku sadar semua itu ucapannya saja untuk membuatku senang hihihi.
Selama ini sudah banyak sekali buku yang aku baca. Kisah percintaan, idealisme, persahabatan, komedi, buku motivasi, biografi orang-orang hebat sudah kulahap hehehe. Aku menghindari buku-buku horror dan detektif, ya, karena aku penakut dan bukan pemikir hihi. Tiap buku yang kubaca memberi kesan tersendiri, banyak di antaranya membuat larut dan membuat semakin yakin jadi penulis. Aku juga suka sekali membaca blog, mulai dari motivator hingga pujangga. Indah, mendayu-dayu ~~
Selama SMA aku masih asyik dengan hobi menulis dan melupakan kewajiban belajar. Lebih tepatnya aku memang menjadi nakal. Dampaknya? Wah hebat sekali dampak yang ku dapat! Aku GAGAL TOTAL di UN. Hakhakhak.
Satu-satunya hal yang disyukuri, mama, bapak dan kakak menerima. Bahkan kata-kata favorite ku adalah 'Kalau jatuh, ya bangun. Jangan malah tiduran' Perumpamaan konyol dari mama untuk membangkitkan aku yang di terpa malu saat itu. Sekarang, aku malah suka sekali mentertawakan masa lalu tersebut dengan teman makan siangku di kampus. Konyol sekali bukan? HAHAHAH.
Kini seperti kapal yang mengubah haluan, aku menemukan mercusuarku sendiri. Aku tau mau kemana arah diriku nanti. Ketika banyak orang mengatakan impian besarnya menjadi akuntan, pegawai bank, direktur atau presiden, aku bangga mengatakan aku ingin menjadi penulis dan guru bahasa Inggris.
Tapi jejak menuju impian memang sulit. Kiranya mudah, maka tak akan ada yang namanya perjuangan, persaingan dan pertahanan.
Terlalu banyak impian yang ku tampung kini. Milikku, bapak dan mama bercampur-campur jadi satu memenuhi isi kepala. Ada satu, dua, lima belas, dua puluh delapan, tiga puluh sembilan, lima puluh, tujuh puluh, sembilan puluh, seratus, dua ratus bahkan lebih impian di sanggahkan di pundakku. Hanya senang, walau bukan munafik aku juga lelah.
Aku terjebak disini. Sendirian. Anak kelima dari lima bersaudara ini mempunyai tanggung jawab mewujudkan mimpi-mimpi yang tertahan itu.
Impian ini tak tertulis di secari keertas, hanya di ingat bersamaan dengan dua garis lengkung di wajah mama dan bapak. Tau kenapa? Their smile reminds me to do something right. That's it! :)
Sepasang Bidadari
♥♥
♥♥


No comments:
Post a Comment