Monday, December 24, 2012

Perjamuan Rindu



Apa yang kalian lakukan jika harus terjarak dengan orang yang di kasihi? Memutuskan tetap pergi namun akan kembali untuk menemuinya, atau memutuskan untuk tetap tinggal? Dilema!

Aku mengenal seseorang yang kenal dengan seseorang yang juga... ah sudahlah! Bukan itu masalah pentingnya. Ini seputar rindu. Permasalahan klasik yang hingga 2012 yang akan segera habis ini juga tak memiliki pemecahan. Yang ketika kau jabarkan maknanya begitu singkat, namun bagaimana kau menjabarkan isi di hatimu itu? Aku yakin bahkan matematika, kimia atapun fisika akan kalah.

Ada pepatah yang mengatakan, 'hati wanita lebih dalam dari samudra.' Tidakkah sang pembuat pepatah itu ingat bahwa pria juga memiliki hati? Bahwa mereka juga bisa merasakan rindu. Aku tertawa saat membaca pepatah itu, padahal si pembuat adalah seorang pria. Dia pasti pria yang lemah hingga hatinya segera bisa terjangkau, mungkin lebih dangkal dari sungai atau bahkan kolam renang?

Masalah rindu seperti peliknya Jakarta yang tak bisa lepas dari macet dan banjir. Kemanapun kalian pergi disana akan ada Jakarta yang semrawut. Seperti halnya hati yang merindu, rasanya semrawut. Benang kusut yang paling kusut bisa menjadi lurus bila kita menitinya dengan kesabaran. Rindu itu juga begitu, kau hanya harus sabar meniti tiap waktu untuk meluruskannya. Apa itu sama? Aku juga tak paham! Jika sang kekasih merupakan pelurus benang kusut itu, berarti memang kau harus melakukannya sebagaimana merapihkan benang yang kusut itu. Mudah tapi sulit.

Bilamana rindu seseorang merupakan suatu penyakit, maka banyak orang di luar sana yang sedang sekarat. Mereka butuh obat untuk menyembuhkannya. Tapi tak semua obat itu murah, ada yang harganya selangit hingga beberapa orang memutuskan untuk tetap menjadi sekarat. Ada juga yang begitu murah ataupun mereka mendapatkannya dengan gratis.

Kau sendiri bagaimana? Obatmu itu murah atau sangat mahal?

Aku sendiri seringkali mendapat obat yang sangat mahal. Beberapa kali mengalami saat sekarat dan tetap sekarat selama beberapa waktu. Padahal aku pernah membayangkan diriku duduk sebangku dengan 'rindu' itu sendiri. Menjamunya dengan makan malam istimewa yang ku siapkan khusus dengan kedua tanganku. Hmm, aku terlalu berimajinasi!

Hingga kini baik aku ataupun mereka yang sekarat sepertinya tetap menjadi sekarat. Aku berharap kita semua tak lebih lama lagi seperti ini, dan bisa segera menjamu 'rindu' di dalam hati dengan kedua tangan ini secara special.

Sebagai alibi untuk melupakan sekarat ini, aku biasanya bicara pada diriku sendiri 'Saat ini Tuhan sedang memeluk rindu-rindu kita yang bertebaran bagai abu. Nanti, jika waktunya tiba obat yang paling murah itu akan di berikan Tuhan dan abu-abu yang bertebaran itu akan di kumpulkan menjadi satu'. Hihi.

Kalian sendiri bagaimana? Apa yang kalian ucapkan untuk diri kalian sendiri?

No comments:

Post a Comment